Minggu, 31 Mei 2015

Jenis – Jenis Jamur Penyebab Penyakit Zoonosis/Non Zoonosis


A.       Mikrosporum canis
M.canis adalah penyebab ringworm utama pada kucing dan biasa pada anjing. Infeksi pada berbagai hewan lain seperti sapi, kuda, biri-biri, babi, keledai, kambing, singa, kera, orang utan, marmot, dan kelinci pernah dilaporkan. Penyakit ini zoonosis. Anak kucing diduga sebagai sumber yang paling sering menjadi outbreak atau letupan penyakit pada manusia.
Biasanya kucing tampak alopecia ( kehilangan rambut ) pada muka dan rambut. Kadang-kadang sembuh spontan. Sedangkan lesi-lesi pada anjing tampak nyata, jelas, terbatas (circumscribed), tertutup sisik-sisik dan punting-puntung rambut yang putus (hairstub) atau tanpa sisik dan tanpa rambut sama sekali
M. canis tumbuh sangat cepat, kadang-kadang 48 jam pertumbuhan sudah kelihatan. Koloni tumbuh berwarna putih, seperti kapas (cottony), dengan pigmen bright yellow pada pertumbuhan perifer dengan bagian balik kuning terang. Koloni dapat juga fluffy dan wooly, kadang-kadang chalky sampai granuler. Perifer ada ekstensi radial dengan tepi kuning. Macroconidia dihasilkan banyak dengan ukuran yang besar, berdinding tebal dan kasar, multiseptat, berbentuk bulat, oval atau seperti buah pear atau kumparan dengan permukaan yang  sandy. (Jones, 1957)

B.     Mikrosporum nanum
Menyerang pada babi. Gejala klinis berupa lesi-lesi penampakan merah ( redcast) dan ditutupi dengan selaput atau keropeng superficial coklat. Selaput-selaput prominen pada perifer lesi-lesi membentuk pita prominen lebar 2.5 cm. Kulit agak kasar pada daerah infeksi atnpa alopecia yang nyata atau kegatalan (prunitis). M. nanum adalah zoophilic. Di bawah wood’s lamp tidak tampak fluoresensi, atau kalau adapun sangat lemah. Koloni mula-mula putih, seperti kapas atau wol dengan bawah berwarna oranye sampai coklat kekuning-kuningan.

Semakin tua koloni mereka menjadi granuler dengan tepi kuning ( a buff periphery ) dengan balik merah mawar. Secara histology, gambaran menciri berupa makrokonidia yang banyak dan kecil, berbentuk gada, elips, ber sel dua, terpotong pada ujung atau truncated, berdinding tipis, kasar berduri. (Subronto, 1985)

             
C.        Trichophyton gallinae
Ringworm pada ayam disebabkan oleh T.gallinae yang merupakan suatu fungi zoopholic. Pathogenesis terutama pada ayam,dan reservoirnya adalah manusia, hewan piaraan, kera, burung merpati, kucing, anjing dan hewan pengerat. Infeksi dimulai sebagai deposit bersisik, putih pada bagian tidak berbulu daripada kepala dan dapat menyebar ke bagian kulit yang berbulu. Organisme ini tidak menyerang bulu maupun organ internal. Pada ayam,kulit terserang sampai mulut folikel bulu. Manusia kadang terserang pada kulit. Infeksi T.gallinae bersifat enzootic terutama menyerang ayam dan kalkun. Kerokan kulit terinfeksi dapat menunjukan keberadaan miselium pendek-pendek,tebal,bercabang-cabang dan berpuntir atau twist dengan arthrospora bulat. Koloni tumbuh agak cepat,bertumpuk-tumpuk berwarna putih halus seperti bulu  dengan tepi terkoyak,dan alur radial halus serta pigmen merah rasberi terlarut difus keseluruh media. Secara mikroskopis,macroconidia pada kultur biasanya jarang tetapi dapat juga banyak 2-10 sel. Bentuk clavate / silindris berdinding halus,berdiameter 15-50 micro x 6-8 micro. Terdapat tunggal atau dalam untaian,microconidia bulat oval seperti buah pir,terdapat di sepanjang hifa. Hifa bercabang,septet,kadang memisah menjadi spora. Keberadaan dinding halus dengan tonjolan individual yang berujung tumpul. (Tabbu, 2000)
Fungi mensekresikan keratinase, elastase dan kolagenase. Enzim – enzim ini membantu menyediakan nutrisi dengan mendigesti jaringan hospes. Hal ini mampu mengakibatkan reaksi peradangan di titik infeksi. Perubahan klinis dimulai dengan eritema, kemudian diikuti dengan eksudasi, panas setempat dan terjadinya alopecia. Karena jamur tidak tahan hidup dalam suasana radang, jamur berusaha meluas kepinggir lesi, hingga akhirnya terbentuk lesi yang klasik berupa lesi yang bulat atau sirkuler, dengan bagian tengahnya mengalami kesembuhan. Apabila jamur bertumbuh pada kulit yang memiliki selaput keratin yang tebal dan jauh dari jaringan vaskuler, secara teoritis ringworm akan bersifat kronik. Secara teoritis juga, apabila tubuh cukup mampu melawan ringworm dengan pembentukan radang yang berlebih, jamur akan mati dan akan menghasilkan kesembuhan sempurna. (Quinn, 2002)

D.       Coccidioides immitis

Coccidioides immitis adalah suatu jamur. Biasanya terdapat di tanah, sehingga disebut jamur tanah. Jamur ini bersifat endemik dan dapat menyebabkan koksidioidomikosis. Infeksi yang ditimbulkan jamur ini biasanya dapat sembuh sendiri tetapi juga dapat mematikan. Jamur jenis ini juga dikenal sebagai jamur dimorfik karena jamur ini mempunyai daya adaptasi morfologik yang unik terhadap pertumbuhan dalam jaringan atau pertumbuhan pada 37°C. Coccidioides immitis bentuknya seperti bola (sferul) yang garis tengahnya 15 - 60μm, dengan dinding tebal berbias ganda. Hifa dari jamur ini juga mudah pecah dan mengeluarkan spora. Spora yang dihasilkan inilah yang nantinya berpengaruh pada proses infeksinya. Infeksi oleh jamur ini biasanya meliputi influenza, demam, lesu, batuk, dan adanya rasa sakit di seluruh tubuh. Gejala – gejala inilah yang biasanya disebut “Valley fever” dan biasanya gejala ini dapat seolah – olah sembuh sendiri yang dikenal dengan infeksi primer dan hanya dibutuhkan pengobatan suportif atau dapat juga kronik. Koksidioidomikosis yang menyebar ini dapat disamakan dengan tuberkolosis. (Jones, 1957)

E.     Sporotrichum schenckii 


Sporotrichum schencki .Di alam bebas, S.schenckii  sering terdapat di tanah dan tumbuh-tumbuhan yang sudah lapuk. Sporotrichum schenckii  adalah jamur dimorfik bergantung suhu (thermally dimorphic). Biakan jamur pada suhu kamar membentuk koloni filamen putih dengan hifa halus dan spora yang tersusun menyerupai bunga pada ujung konidiofora. Pada suhu 37°C biakan membentuk koloni ragi dengan blastospora yang bulat dan lonjong. Sporotrikosis adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh Sporotrichium schencki  dan ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan jaringan subkutis diatas nodus bening sering melunak dan pecah membentuk ulkus yang indolen. Infeksi terjadi karena jamur masuk ke dalam jaringan subkutis melalui luka pada kulit oleh duri atau kayu lapuk. Infeksi dapat juga melalui inhalasi spora. (Jones, 1957)

F.         Aspergillus sp.
Aspergilosis pada unggas terutama disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus. Organisme lain yang mungkin ditemukan sebagai penyebab aspergilosis adalah A. terrus, A. glaucus, A. nidulans, A. niger, A. amstelodami dan A. nigrescens. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus tidak memiliki stadium seksual sehinga digolongkan pada famili Moniliaceae (Tabbu, 2000).
Penularan aspergilosis adalah dengan cara menghirup spora dalam jumlah yang banyak. Penyakit ini dapat juga ditularkan melalui telur, karena Aspergillus fumigatus dapat tumbuh di bagian dalam telur dan dapat menurunkan daya tetas telur. Anak ayam yang menetas dari telur tersebut berisiko terkena aspergilosis (Tabbu, 2000).
Mikotoksin atau racun jamur akan sangat mudah ditemukan saat kondisi lingkungan lembab, terutama saat musim penghujan. Selain itu ransum atau bahan baku ransum dengan kadar air yang tinggi akan memicu tumbuhnya jamur yang menghasilkan racun atau toksin. Jamur yang tumbuh pada ransum dan bahan baku ransum dapat dengan mudah dimatikan, namun tidak demikian dengan racun jamur yang terbentuk. Racun itu sangat sulit untuk dihilangkan. (Jones, 1957)
Racun jamur yang terkonsumsi oleh ayam biasanya tidak langsung dikeluarkan dari tubuh, namun akan terakumulasi dan saat kadarnya telah mencapai titik tertentu (batas normal) maka ayam akan mulai menunjukkan gejala. Salah satunya ialah melemahnya sistem pertahanan tubuh ayam atau sering disebut imunosupresi. Imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin bersifat kronis. Namun jika konsentrasi tinggi akan bersifat akut. Imunosupresi merupakan gejala awal saat kadar mikotoksin relatif rendah, selanjutnya terjadi gangguan metabolisme, timbul gejala klinis dan akhirnya timbul kematian. (Jones, 1957)

G.    Candida albicans
Genus Candida terdiri dari 200 spesies lebih. Candida albicans, spesies yang sering dihubungkan dengan penyakit pada hewan, tidak mempunyai stadium seksual. Spesies ini dapat tumbuh secara aerobik pada temperatur 37 0C pada media umum termasuk Sabouraud Dextrose Agar. Koloni terdiri sel kecambah berbentuk oval dengan ukuran 5.0 x 8.0 μm. Pada jaringan hewan, C. albicans dapat menunjukkan polimorfisme dalam bentuk pseudohifa atau hifa. Pada media tertentu, secara spesifik spesies ini memproduksi chlamydospore (chlamydoconidia). Koloninya yaitu berwarna putih, terang dan cembung, dengan diameter 4 sampai 5 mm setelah inkubasi selama 3 hari. (Jones, 1957)
Candida albicans, khamir yang berperan dalam penyakit pada hewan, memiliki beberapa factor virulensi. Organisme ini mempunyai permukaan molekul yang mirip integrin yang dapat menyebabkan adhesi pada protein matriks. Sebagai tambahan, permukaan struktur dapat mengikat fibrinogen dan komponen komplemen. Produksi protease dan fosfolipase dapat membantu invasi jaringan. Fenotipik switching, telah ditunjukkan pada pada C. albicans, yang dapat memfasilitasi evasi pada mekanisme pertahanan hospes. (Jones, 1957)
Pada stadium awal infeksi, mekanisme penghilangan oleh proses fagositik mengeliminasi sel khamir. Sel-sel tersebut merupakan sel yang belum jelas berubah menjadi bentuk hifa. Fosfolipase, yang terkonsentrasi pada ujung hifa, dapat meningkatkan tingkat invasi. Bentuk mukokutaneus yang terlokalisir pada penyakit candidiasis dihubungkan pertumbuhan yang cepat dari C. albicans flora normal pada rongga mulut atau gastrointestinal dan saluran urogenital. Faktor predisposisi termasuk kerusakan pada imunitas cell-mediated, penyakit yang terjadi saat itu, gangguan flora normal akibat obat antimicroba dan kerusakan mukosa akibat handling kateter yang buruk. Mukosa yang terinfeksi menjadi tebal dan kadang hiperemis. Penyebaran lewat aliran darah dapat terjadi akibat invasi vaskuler oleh hifa atau pseudohifa, menghasilkan infeksi sistemik. (Jones, 1957)

     II.        Aspergillosis (Etiologi, Gejala Klinik, Pathogenesis, Cara Diagnosa, dan Terapi)

A.    Etiologi

Aspergilosis pada unggas terutama disebabkan oleh Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus. Organisme lain yang mungkin ditemukan sebagai penyebab aspergilosis adalah A. terrus, A. glaucus, A. nidulans, A. niger, A. amstelodami dan A. nigrescens. Aspergillus fumigatus dan Aspergillus flavus tidak memiliki stadium seksual sehinga digolongkan pada famili Moniliaceae. (Tabbu, 2000). A. fumigatus merupakan penyebab infeksi terbanyak dimana > 90% menyebabkan invansif dan non-invansif Aspergillosis. A. flavus menyebabkan invansif Aspergillosis sebanyak 10% sedangkan A. niger dan A. terreus sebanyak 2%. Penularan aspergilosis adalah dengan cara menghirup spora dalam jumlah yang banyak. Penyakit ini dapat juga ditularkan melalui telur, karena Aspergillus fumigatus dapat tumbuh di bagian dalam telur dan dapat menurunkan daya tetas telur. Organisme itu dapat juga tumbuh di antara kerabang dan bagian luar selaput telur, sehingga anak ayam yang menetas dari telur tersebut berisiko terkena Aspergillosis. (Tabbu, 2000)

B.     Gejala Klinik

Masa inkubasi Aspergillosis sekitar 4-10 hari dan proses penyakit dapat berlangsung sekitar 2 sampai beberapa minggu. Ada 2 bentuk :

1.      Bentuk Akut
Gejala yang terlihat meliputi dyspnoea, bernapa melalui mulut dengan leher dijulurkan ke atas, peningkatan frekuensi pernapasan, kehilangan nafsu makan, mengantuk dan pada kejadian yang jarang terlihat adanya paralisi dan kejang akibat toksin yang telah mencapai otak. Jika aspergillosis diikuti chronic respiratory disease, infectious bronchitis, infectious laryngotracheitis, maka akan terdengar suara ngorok yang basah, jika gangguan pernapasan hanya disebabkan Aspergillosis maka tidak akan terdengar suara ngorok yang terlihat hanya kesulitan bernapas yang kering. Bentuk ensefalitik sering ditemukan pada kalkun. Ayam terinfeksi berat biasanya mati dalam 2 – 4 minggu. Mortalitas biasanya sekitar 5% - 20% tetapi kadang dapat mencapai 50%. (Tabbu, 2000)

2.      Bentuk Kronis

Gejala yang terlihat adalah hilangnya nafsu makan, lesu, bernapas dengan mulut, emasiasi, sianosis, dan dapat berlanjut dengan kematian. Dapat ditemui gangguan saraf pusat. Lamanya proses tergantung pada umur dan daya tahan tubuh ayam, proses dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. Mortalitas kurang dari 5%. (Tabbu, 2000)

C.     Pathogenesis

Konidia Aspergillus terhirup, karena ukurannya yang sangat kecil dan mudah terbawa angin. Konidia masuk ke dalam rongga hidung yang didalamnya terdapat mukosillia. Mukosilia tidak dapat menyaring konidia, karena ukura konidia yang kecil dan tahan terhadap suhu tinggi.. Konidia terus masuk ke dalam saluran pernafasan, dan mencapai distal alveolar serta melakukan perlekatan untuk merusak epithelium. Konidia bertambah besar ukurannya di alveoli dan mulai untuk germinasi. Cairan seperti lektin berperan dalam menangkap konidia pada paru - paru, yang kemudian difagosit oleh makrofag alveolar. Makrofag alveolar juga berperan dalam memblok germinasi Aspergillus. Namun, konidia memiliki pertahanan dalam melawan makrofag, antara lain sebagai berikut :
a)         Aspergillus mengandung melanin sebagai pembungkus conidiospora sehingga tidak dapat difagosit oleh sel makrofag alveolar.
b)         SOD di lapisan luar untuk melindungi conidiospora agar tidak rusak.
c)         Aspergillus menghasilkan enzim elaktase dan fosfolifase yang membuat jaringan paru – paru menjadi nekrosis.
d)        Apergillus fumigatus menghasilkan metabolit sekunder antara lain penicillin, mikotoxin, dan hypha fragment. Mikotoksin antara lain : fumigaclavins, fumagilin, fumigatin, fumitoxins, fumitremorgin A & C, gliotoxin, spinulosin, tryptoquivalins, verrucologen. Dan gliotoxin berperan menurunkan fungsi makrofag dan neutrofil.
Hifa menyebar ke seluruh parenkim paru – paru dan pembuluh darah sehingga menimbulkan hemorrhage dan nekrosis. Adanya nekrosis memicu datangnya neutrofil yang berusaha untuk memblok hifa. Peristiwa ini dapat memicu supurasi. (Barness & Marr, 2006)

D.    Cara Diagnosa

Diagnosa didasarkan dari kombinasi gejala klinis, symptom, culture, histopatologi, dan deteksi komponen fungi seperti antigen galactomannan. Mengamati perubahan secara patologis dan patohistologis. Contoh: Pemeriksaan histopatologik menimbulkan bahwa C. immitis tumbuh pada jaringan inang akan membentuk sel raksasa, berdinding tebal dan berisi banyak endospora. Selain pada jaringan, sel raksasa ini juga dapat ditemukan pada lesio purulenta, dan sumsum tulang belakang. Gambaran ini dapat disimpan untuk kepentingan diagnostika. (Pramono, 1988)
Diagnosa Laboratorik :
a)         Penggunaan Wood’s light (UV terfilter) untuk pemeriksaan lesi di ruang gelap. Fungi seperti genus Microsporum, mampu berflouresence di bawah sinar UV.
b)         Identifikasi fungi dengan metode kerok kulit, rambut dan kuku terinfeksi (Quinn, 2002)
c)         Pemeriksaan histologik atas bagian kulit yang mengalami radang minimal akan menunjukkan hiperkeratosis yang bersifat moderat dari epidernis folikel, adanya akantosis serta reaksi radang perifolikuler yang bersifat minimal serta infiltrasi sel–sel mononuklear. Bagian –bagian jamur selau ditemukan apabila sedian diwarnai dengan pewarnaan asam peryodat Schiff (PAS) atau perak methenamin. Selain yang disebutkan, ditemukan ulserasi epidermis yang diisi oleh keropeng–keropeng hasil peradangan. Dinding folikel rambut yang terserang akan berisikan sel–sel PMN dan mononuklear, limfosit, plasma sel dan histiosit. Pada bagian yang mengalami peradangan intensif, fragmen jamur tidak akan dapat dijumpai. (Jones, 1957)

E.     Terapi

Amphotericin dan itraconazole adalah standar treatment untuk Aspergillosis. Voriconazole diketahui lebih efektif dibandingkan amphotericin B, karena pasien memiliki ketahanan yang lebih baik dan sedikit efek toksik. Echinocandins menghambat sintesis dinding sel beta-glucan. Terdapat bukti bahwa terapi ganda untuk Aspergillosis dengan echinocandins lebih baik dibandingkan single terapi, contoh lain adalah gabungan pemakaian caspofungin dan voriconazole untuk pasien yang menderita gagal ginjal. Lama terapi untuk Aspergillosis belum diketahui. Pada praktiknya pasien ditreatment hingga imunosuppresionnya berkurang, biasanya selama beberapa bulan tergantung kondisi pasien. Penggunaan dari granulcyte macrophage colony-stimulating factor dapat meningkatkan jumlah neutrofil dan membantu membersihka Aspergilus sp. Operasi pada beberapa kasus immunosupresi merupakan pilihan yang berisiko tinggi. Pada sedikit pasien, operasi merupakan pilihan terapi, yang telah ditingkatkan teknik operasi yang invansive. Resection dari lesi terisolasi tampaknya penting pada pasien yang memiliki lesi dekat pembuluh darah besar. (Barnes & Marr, 2006)

    III.       Respon Imun Terhadap Aspergillosis

Respon imun seluler merupakan mediator utama perlawanan terhadap infeksi jamur. Mediator utama sistem imun melawan jamur adalah makrofag dan neutrofil. Dari sistem imun, sel TCD4+ dan CD8+ bekerja sama untuk menghilangkan jamur. Dari subset TCD4+, respon sel Th1 merupakan respon protektif, karena sel Th1 berperan mengaktifkan makrofag, sedangkan respon Th2 merugikan pejamu karena menghambat (downregulation) aktivitas makrofag, untuk mencegah reaksi berlebihan yang dapat berakibat kerusakan sel. CD8+  berperan mensekresikan IFN-γ yang diperlukan untuk mengaktifkan makrofag. Tidak heran bahwa inflamasi granulomatosa sering merupakan penyebab kerusakan jaringan pejamu yang terinfeksi jamur intraseluler. (Kresno, 2010)
Infeksi kulit dapat membatasi diri dan biasanya sembuh dengan menimbulkan resistensi terhadap infeksi berikutnya. Resistensi berasal dari reaksi hipersensitivitas tipe IV yang ditunjukan penderita terhadap jamur bersangkutan. Selain itu, resistensi juga dapat disebabkan oleh sel T yang memproduksi limfokin untuk mengaktifkan makrofag mengahancurkan jamur bersangkutan. Kulit dan paru – paru mempunyai mekanisme pertahanan fagositik. Makrofag dapat memfagosit dan menghancurkan konidia Aspergillus sp. sedangkan PMN leukosit dan monosit dapat merusak hifa Aspergillus sp. melalui mekanisme oxidative dan non oxidative. Makrofag dan neutrofil merupakan mekanisme pertahanan paru – paru terhadap Aspergillus sp. Keratin dan barrier epidermis kulit juga merupakan mekanisme pertahanan terhadap Aspergillus sp. (Kresno, 2010)

  
DAFTAR PUSTAKA

Barnes,  Penelope D., Kieren A. Marr. 2006. Aspergillosis : Spectrum of Disease, Diagnosis, and Treatment. Infectious isease Clinics of North America Vol. 20 : 545 – 561.
Jones, Thomas C., Ronald D.H., Norval W.K. 1957. Veterinary Pathology. Philadelphia : Lea & Febiger.
Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran UI.
Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I . Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Tabbu, Charles Rangga. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 1. Yogyakarta : Kanisius
Quinn,P. 2002. Veterinary Microbilogy and Microbial Disease. Dubli : Blacwell Science.

Jumat, 27 Maret 2015

Respon Imun Pada Infeksi Bakterial Dan Viral

    
   I.          Respon Imun Humoral dan Seluler Infeksi Bakteri terhadap Infeksi Bakteri

(Playfair & Chain, 2001)

Lini pertahanan pertama tubuh terhadap mikroba diperankan oleh mekanisme barrier pada permukaan tubuh misalnya kulit dan permukaan epitel. Respon pada bagian tubuh ini termasuk respon imun bawaan atau non spesifik. Selain barrier, respon ini juga mencakup sekresi substansi – substansi seperti asam lemak yang diproduksi oleh kulit yang bersifat toksik untuk sebagian besar mikroba, lisozim dalam saliva, air mata dan secret hidung, IgA, aktivitas fagosit dan komplemen, serta aktivitas flora normal yang memproduksi asam laktat dan protein antimikroba (colisin). (Kresno, 2010)
Lini pertahanan kedua diawali dengan pengenalan komponen mikroba oleh sistem imun. Mekanisme pertahanan sistemik terhadap mikroorganisme digolongkan dalam respon imun seluler dan humoral. Respon mana yang lebih berperan bergantung pada jenis mikroorganisme penyebab infeksi. Jika mikroba dapat masuk ke dalam jaringan, maka pertama ia akan dilawan oleh komponen sistem imun bawaan atau non spesifik yang didominasi aktivitas fagosit polimorfonuclear (PMN) dan sel – sel mononuclear (monosit-makrofag). (Kresno, 2010)

A.       Respon Imun Pada Infeksi Mikroorganisme Ekstraseluler

1.      Respon Non Spesifik

Mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri dipengaruhi oleh struktur dan patogenitas bakteri. Berdasarkan struktur dinding sel, bakteri dibagi menjadi bakteri gram positif, dan gram negative. Lapisan luar bakteri gram negative yang terdiri atas lipid merupakan komponen penting karena biasanya peka terhadap mekanisme lisis oleh komplemen dan sel sitotoksik. Bakteri gram negative umumnya dapat dibunuh langsung oleh sel NK dengan cara melisiskan membran sel bakteri, sedangkan sel T sitotoksik akan merusak membran sel yang terinfeksi bakteri intraseluler sehingga bakteri keluar dan dapat dihancurkan. (Kresno, 2010)
Bakteri gram positif mengandung peptidoglikan dalam dinding selnya yang mengaktifkan jalur alternative komplemen dengan pembentukan C3 konvertase. Lipopolisakarida pada dinding bakteri gram negative mengaktifkan jalur alternative tanpa kehadiran antibody, yang juga langsung menghasilkan C3 konvertase. C3 konvertase merombak C3 menjadi C3a dan C3b. C3b mengaktivasi fagositosis yang terdiri dari :

  

 (Burmester & Antonio, 2003)


a)         Fase Pergerakan : C3a dan C5a menyebabkan inisiasi khemotaksis (sel PMN yang dominan dalam sirkulasi menuju ke lokasi infeksi). Selain dari komplemen, faktor khemotatik juga dapat berasal dari  bakteri, neutrofil atau makrofag.
b)         Fase Perlekatan : Setelah tiba di lokasi infeksi, PMN melakukan adhesi pada endotel atau jaringan lain maupun dinding mikroba. Kemampuan adhesi PMN bertambah karena sinyal tersebut juga merangsang ekspresi reseptor FC maupun reseptor komplemen pada permukaan sel.
c)         Fase Penelanan : Fagosit membentuk tonjolan pseudopodia, kemudian membentuk kantung yang mengelilingi bakteri dan mengurungnya, bentukan ini disebut fagosom.
d)        Fase Pembunuhan : Fagosom berfusi dengan lisosom disebut fagolisosom. Enzim – enzim aktif dalam lisosom seperti lisozym menghancurkan mikroorganisme. (Kresno, 2010)

2.      Respon Spesifik




  
      (Playfair & Chain, 2001)

Mikroba ditangkap oleh makrofag atau monosit yang berfungsi sebagai APC yang menyajikan antigen mikroba kepada sel T-helper. Atas pengenalan itu sel T-helper merangsang sel B untuk memproduksi antibody spesifik terhaap mikroba bersangkutan. Antibodi berfungsi menetralisir toksin. Antibodi dapat mengikat toksin sedemikian rupa sehingga toksin tidak dapat bereaksi dengan substrat. Dengan terikatnya toksin oleh antibody, maka terbentuklah kompleks yang dapat dihancurkan oleh fagosit.  (Kresno, 2010)

B.        Respon Imun Pada Infeksi Mikroorganisme Intraseluller


(Playfair & Chain, 2001)

Bakteri intraseluler fakultatif dapat hidup bahkan berkembang biak dalam fagosit. Beberapa jenis bakteri dapat hidup dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag setelah difagositosis. Karena mikroba menemukan tempat bersembunyi hingga tidak terjangkau oleh antibody dalam sirkulasi maka untuk menyingkirkannya memerlukan mekanisme yang berbeda. Dalam melawan bakteri intraseluler ada 2 jenis reaksi yang terjadi yaitu : (Kresno, 2010)
a)         Pembunuhan bakteri intraselular yang difagositosis oleh makrofag teraktivasi. Awalnya bakteri intraseluler mengaktifkan sel NK dengan cara menginduksi ekspresi ligan pengaktif sel NK ada permukaan sel terinfeksi atau stimulasi sel dendritik dan produksi IL-12 oleh makrofag yang merupakan sitokin pengaktif makrofag yang kuat. Sel NK memproduksi IFN-γ yang pada gilirannya mengaktifkan makrofag dan meningkatkan kemampuan makrofag untuk membunuh bakteri yang telah difagosit. (Kresno, 2010)
b)         Lisis sel yag terinfeksi oleh sel T CD8+. Protein bakteri intraseluler dapat merangsang sel T CD4+ (melalui kompleks antigen-MHC kelas II) maupun CD8+ (melalui kompleks antigen-MHC kelas I). Bakteri intraseluler menginduksi perkembangan sel T menjadi fenotip sel Th1, karena bakteri ini merangsang produksi IL-12 oleh makrofag dan produksi IFN-γ yang mengaktifkan makrofag untuk memproduksi ROI (respiratory oxidative) dan enzim – enzim yang dapat membunuh bakteri. IFN-γ juga merangsang produksi isotop antibody misalnya IgG2 yang mengaktifkan komplemen dan opsonisasi bakteri, sehingga meningkatkan fungsi makrofag. Selain itu, Th1 memproduksi limfotoksin dan TNF yang menginduksi inflamasi lokal. Jika bakteri tetap hidup dalam sel dan melepaskan antigennya ke sitoplasma, ia merangsang Tc (CD8+) yang melisiskan sel terinfeksi melalui perforin dan granzim. (Kresno, 2010)
Jika mikroorganisme tersebut masih belum dapat dibunuh secara efektif, terjadi respon imun seluler kronik berupa penimbunan makrofag yang berada di sekitar mikroorganisme, disusul proses granulasi, dan fibrosis yang berakhir dengan pembentukan granuloma yang disebabkan oleh diproduksi TNF-α oleh makrofag dan IFN-γ  oleh sel T. Sitokin TNF-α meningkatkan pembentukan dinding fibrotic yang membungkus bakteri dan berkontribusi pada kerusakan jaringan bakteri. (Kresno, 2010)


     II.        Definisi Vaksin dan Penggolongannya



Vaksin adalah sediaan farmasi yang mengandung zat antigenic yang mampu menimbulkan kekebalah aktif dan spesifik. Vaksin dapat dibuat dari bakteri riketsia, atau virus. Vaksin dapat berupa suspense mikroorganisme hidup atau inaktif, faksi mikroorganisme, atau toksoid. Vaksin dibuat dengan cara melemahkan atau menginaktifkan virus atau dengan menyeleksi mutan avirulen. Selain itu, vaksin dapat dibuat dengan rekayasa genetika, rekayasa protein, maupun sintetik. Suatu vaksin memenuhi syarat jika aman digunakan dan efektif memberikan imunitas untuk tubuh. Vaksin digolongkan menjadi :

a)         Vaksin Dari Mikroorganisme Hidup


Vaksin  yang dipakai umumnya merupakan mutan yang kurang virulen yang didapat dengan cara melakukan perbanyakan virus atau mikroorganisme berulang – ulang. Virus ditumbuhkan pada sel inang yang berbeda dari sel inang normal atau dengan cara mengembang-biakkan virus tersebut pada suhu non fisiologis. Mutan yang mampu berkembang biak lebih baik dibanding virus tipe liar (wild type) pada kondisi selektif tersebut akan meningkat selama replikasi virus. Jika mutan tersebut diisolasi, dimurnikan, dan diuji patogenisitas pada model yang tepat, beberapa tipe mutan dapat memiliki sifat patogen yang lebih rendah dibandingkan induknya. Mutant tersebut merupakan kandidat yang baik sebagai vaksin karena mereka tidak lagi berkembang dengan baik pada inang alaminya tetapi memiliki kemampuan bereplikasi yang cukup tinggi sehingga dapat menstimulasi respons imun, tetapi tidak menimbulkan penyakit.
Untuk menunjukan hilangnya virulensi, virus atau mikroorganisme diujikan pada hewan percobaan. Walaupun efektif, terdapat masalah terhadap vaksin hidup, yaitu ketidakstabilan genetik, kemungkinan kontaminasi virus berbahaya, interferensi virus liar, dan labilitas terhadap panas. Contoh vaksin yang dilemahkan (attenuated vaccine) : vaksin BCG, vaksin sabin (polio), vaksin campak, vaksin rubella. (Harmita & Radji, 2006)

b)         Vaksin Dari Mikroorganisme yang Dimatikan

Pada metoda ini, virus yang secara alami bersifat pathogen diproduksi dalam jumlah besar dan diinaktifkan dengan menggunakan bahan kimia atau prosedur fisik yang dirancang untuk menghilangkan sifat infektif dari virus tanpa kehilangan sifat antigenisitasnya (yaitu kemampuan untuk memicu respons imun yang diinginkan). Teknik yang umum digunakan adalah dengan cara perlakuan dengan formalin atau beta propriolactine atau ekstraksi dari partikel envelope virus dengan detergen nonionik seperti Triton X-100. Beberapa masalah pada vaksin jenis ini ialah jumlah antigen yang diberikan harus cukup banyak sehingga menimbulkan kesulitan dalam proses pembuatan vaksin, serta cara pemberian vaksin yang sistemik sehingga tidak menimbulkan kekebalan lokal. Contoh vaksin virus inaktif : vaksin influenza, poliovirus (salk vaccine), rabies , vaksin untuk hewan. (Harmita & Radji, 2006)

c)         Vaksin Subunit




Vaksin yang diformulasikan hanya dengan beberapa komponen yang dimurnikan dari virus (tanpa memasukkan seluruh bagian virus) disebut dengan vaksin subunit. Komponen virus yang diambil adalah protein virus yang dikenali oleh antibodi. Pada banyak kasus, protein yang digunakan adalah protein struktural virus, khususnya protein yang ditemukan pada permukaan virion, yang merupakan target utama dari respons imun. Keuntungan dari vaksin subunit :
1)         Hanya genom virus yang digunakan dalam sistem ini, maka tidak ada kemungkinan kontaminasi dari virus terhadap vaksin yang dihasilkan.
2)         Protein virus dapat diproduksi dengan biaya terjangkau dalam jumlah besar dengan rekayasa organisme pada kondisi yang mempermudah pemurnian dan kontrol kualitas. Sebagai contoh, masalah dengan alergi telur setelah vaksinasi dapat dieliminasi apabila protein NA dan HA pada virus influenza diproduksi pada E. coli atau ragi.
Contoh vaksin subunit : Herpes Simplex Virus. Bagian antigenik dari Herpes Simplex Virus adalah HSV viral envelope glycoprotein D. (Harmita & Radji, 2006)







DAFTAR PUSTAKA

Burmester, Gerd R., Antonio P. 2003. Color Atlas Of Immunology. Stuttgart : Georg Thieme Verlag.
Harmita, Maksum Radji. 2006. Buku Ajar Analisis Hayati. Jakarta : EGC.
Kresno, Siti Boedina. 2010. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran UI.
Playfair, J.H.L., B.M. Chain. 2001. Immunology At A Glance. UK : Blackwell Publishing.Martini,
Pinchuk, G. 2004. Schaum’s Outline of Theory & Problems of Immunology. New York : The McGraw-Hill Companies.